Siswa diajak belajar memilah, memahami dan mengelola sampah melalui pengalaman l
Puluhan Siswa MI PERSIS Bangil Kenali Cara Kelola Sampah Sejak Dini
SIDOARJO – Bagaimana jika kampung berubah menjadi ruang kelas dan sampah menjadi bahan pembelajaran?.
Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam Kunjungan Edukasi Pengolahan Sampah Limbah Rumah Tangga yang dilakukan MI PERSIS Bangil di Kampung Edukasi Sampah, RT 23 RW 07, Sekardangan, Sidoarjo, Kamis (1/10/2026).
Sebanyak 51 siswa bersama empat guru pendamping datang untuk belajar secara langsung mengenai pengelolaan sampah dan pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah menumbuhkan karakter dan kesadaran peserta didik terhadap kelestarian lingkungan.
Berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas, kunjungan edukasi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat langsung bagaimana lingkungan tempat tinggal masyarakat dapat dikelola menjadi ruang belajar tentang sampah.
Sejak memasuki kawasan Kampung Edukasi Sampah, para siswa diajak mengenal lingkungan kampung yang ditata dengan berbagai pesan dan fasilitas edukasi. Mereka kemudian mengikuti sesi penjelasan mengenai pengelolaan sampah, termasuk pentingnya memilah sampah berdasarkan jenisnya dan menempatkan sampah pada tempat yang sesuai.
Suasana pembelajaran berlangsung interaktif. Para siswa duduk berkelompok, memperhatikan penjelasan, mencatat, bertanya, dan mengikuti demonstrasi yang diberikan oleh pengelola Kampung Edukasi Sampah.
Dalam salah satu sesi, siswa diperkenalkan dengan berbagai wadah pemilahan sampah dan diajak memahami perbedaan antara sampah yang dapat dikelola kembali dengan sampah yang membutuhkan penanganan berbeda.
Beberapa siswa juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dan mempraktikkan langsung materi yang diberikan.
Pembelajaran semakin menarik ketika siswa diajak mengenali sampah yang berada di sekitar mereka. Bahkan, material yang selama ini sering dianggap tidak bernilai diperkenalkan sebagai sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan tepat.
Pendekatan tersebut membuat edukasi lingkungan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Mereka tidak hanya diberi tahu apa itu sampah, tetapi diajak melihat, menyentuh, mengamati, bertanya, dan mencoba. Pesan yang dibangun dalam kegiatan ini sebenarnya sederhana: sampah adalah tanggung jawab bersama.
Persoalan sampah tidak selesai hanya dengan membuangnya ke tempat sampah. Ada proses yang lebih panjang, mulai dari mengurangi timbulan sampah, memilah dari sumber, menggunakan kembali material yang masih bernilai, hingga memastikan sampah yang tersisa ditangani dengan benar.
Bagi anak-anak, pemahaman tersebut penting karena kebiasaan yang dibangun sejak dini berpotensi menjadi bagian dari perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada pengetahuan. Ia perlu menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan akan lebih mudah tumbuh ketika anak-anak mendapatkan pengalaman secara langsung.
Kunjungan MI PERSIS Bangil juga memperlihatkan bagaimana lingkungan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pendidikan. Kampung Edukasi Sampah tidak hanya menjadi tempat untuk melihat pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara anak, sekolah, masyarakat, dan lingkungan.
Suasana kampung yang hijau, tertata dan dipenuhi berbagai pesan edukasi memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka dapat melihat bahwa kepedulian lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Justru sebaliknya, lingkungan berada sangat dekat dengan mereka di rumah, sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana: membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan tidak membiarkan sampah menjadi masalah bagi orang lain.
Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan tentang sampah, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai karakter. Para siswa belajar mendengarkan, bekerja dalam kelompok, mengikuti arahan, bertanya, berani tampil, serta memahami bahwa menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan setiap orang.
Sebab, tantangan pengelolaan sampah pada masa depan bukan hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki kepedulian dan kebiasaan baik terhadap lingkungan. Melalui kunjungan edukasi seperti ini, sekolah memiliki ruang untuk memperluas pembelajaran sekaligus memperkenalkan persoalan lingkungan melalui pengalaman yang nyata.








