banner 728x90

Sidoarjo – Puluhan kepala desa yang tergabung dalam Ikatan Kerukunan Kepala Desa (IKKD) Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, tertarik mempelajari berbagai inovasi pengelolaan lingkungan yang dikembangkan Kampung Edukasi Sampah (KES) di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo.

Dalam kunjungan studi tiru yang berlangsung pada hari Jumat tanggal 6 November 2026 tersebut, rombongan menggali ide, pengetahuan, dan praktik baik pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk dikembangkan di desa masing-masing.

Kunjungan ini tidak sekadar mempelajari cara memilah dan mengolah sampah, tetapi juga melihat berbagai inovasi lingkungan yang diterapkan secara terintegrasi. Salah satu yang menarik perhatian rombongan adalah instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang mengolah air dari saluran selokan untuk selanjutnya dimanfaatkan kembali sebagai air penyiraman tanaman.

Lastri dari Kantor Kecamatan Bati-Bati yang turut mendampingi rombongan mengatakan, kunjungan tersebut bertujuan mendapatkan ide dan inspirasi untuk mengembangkan pengelolaan sampah di wilayahnya.

Menurutnya, inovasi IPAL yang mampu mengolah air limbah rumah tangga untuk dimanfaatkan kembali untuk penyiraman air, menjadi hal menarik yang perlu dipelajari lebih lanjut dan berpotensi diterapkan di desa-desa Kecamatan Bati-Bati.

Sementara itu, Sukiman yang mewakili kepala desa Kabupaten Tanah Laut mengatakan, rombongan bersama tim dan perangkat desa sengaja datang untuk belajar secara langsung dari praktik pengelolaan lingkungan yang telah dikembangkan Kampung Edukasi Sampah.

"Kami datang bersama tim dan perangkat desa untuk belajar di Kampung Edukasi Sampah. Harapannya, berbagai pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh bisa kami terapkan di tempat masing-masing," ungkapnya.

Kampung Edukasi Sampah bukan sekadar kawasan yang mengajak warganya membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, kawasan ini mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).

Sampah organik diolah melalui berbagai metode, seperti komposter aerob, Takakura, dan tong aerob. Pengolahan juga dilakukan melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) serta penggunaan mesin pencacah sampah organik.

Untuk sampah anorganik, warga mengembangkan Bank Sampah Telulikur sebagai sarana pemilahan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan nilai jual sampah.
Berbagai inovasi lainnya meliputi hidroponik, sumur resapan, IPAL komunal, dan pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya.

Berbagai fasilitas tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengelolaan sampah, air, energi, hingga penghijauan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan di tingkat desa perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurutnya, pemahaman mengenai SDGs tidak boleh berhenti di tingkat pemerintah pusat maupun kabupaten/kota, tetapi harus diterjemahkan hingga ke tingkat pemerintahan desa. Sebab, desa merupakan ujung tombak pembangunan sekaligus ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

"SDGs jangan hanya menjadi pemahaman atau dokumen perencanaan di tingkat pusat dan daerah. Pemerintah desa juga harus memahami apa itu SDGs, apa tujuan dan indikatornya, serta bagaimana menerjemahkannya ke dalam program dan kegiatan nyata di desa," ujar Edi.

Ia menjelaskan, isu pengelolaan sampah dan lingkungan berkaitan langsung dengan sejumlah tujuan SDGs, antara lain SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

Karena itu, menurutnya, pemerintah desa perlu memiliki perspektif pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, serta kualitas hidup warganya.

"Desa memiliki peran strategis dalam pencapaian SDGs. Program pengelolaan sampah, bank sampah, penghijauan, pengolahan air limbah, pemanfaatan energi terbarukan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat sebenarnya merupakan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan," tambahnya.

Edi juga menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas atau besarnya anggaran, melainkan oleh kesadaran, kepemimpinan, dan keterlibatan masyarakat.

"Jangan menunggu anggaran besar atau fasilitas lengkap untuk mulai bergerak. Mulailah dari rumah tangga, libatkan masyarakat, bangun gotong royong, dan lakukan secara konsisten. Setiap desa memiliki potensi untuk mengembangkan inovasi lingkungan sesuai karakteristik dan sumber daya yang dimiliki," tegasnya.

Ia berharap kegiatan studi tiru tidak berhenti pada aktivitas melihat fasilitas dan mengambil dokumentasi, tetapi mampu menghasilkan gagasan, rencana tindak lanjut, dan aksi nyata setelah peserta kembali ke daerah asal.

Selama ini, Kampung Edukasi Sampah menerima sekitar 3.000–4.000 pengunjung setiap tahun. Mereka berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas, instansi pemerintah, peneliti, hingga delegasi luar negeri.

Kampung Edukasi Sampah juga membuka kesempatan bagi kepala desa, perangkat desa, BUMDes, asosiasi pemerintah desa, komunitas, dan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia untuk melakukan kunjungan edukatif maupun studi tiru.

Pengunjung dapat belajar langsung mengenai pengelolaan bank sampah, pengolahan sampah organik, budidaya maggot, teknologi tepat guna, pengelolaan air limbah, hingga strategi membangun partisipasi masyarakat.

Melalui kegiatan edukasi dan berbagi praktik baik ini, diharapkan semakin banyak desa yang terinspirasi membangun sistem pengelolaan lingkungan secara mandiri, partisipatif, dan berkelanjutan.

banner 300x250

Berita Terkait