Menyiapkan Gerakan Lingkungan Berkelanjutan dari Desa
Raih Prestasi Lomba 6 SPM, Pemdes Tenaru Gresik Pilih Belajar Sampah
SIDOARJO - Penghargaan tidak selalu harus dirayakan dengan seremoni. Bagi Pemerintah Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, prestasi justru menjadi momentum untuk belajar dan memperkuat upaya menjaga lingkungan.
Semangat tersebut diwujudkan melalui wisata edukasi pengelolaan sampah di Kampung Edukasi Sampah (KES), Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–11.00 WIB ini menjadi bentuk apresiasi atau reward atas keberhasilan Desa Tenaru dalam lomba 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM), sekaligus upaya meningkatkan kapasitas perangkat desa dan lembaga kemasyarakatan desa (LKD) dalam mengelola sampah berbasis masyarakat.
Dipimpin langsung oleh Kepala Desa Tenaru, Heri Prasetyono, rombongan terdiri atas perangkat desa dan unsur kelembagaan masyarakat, di antaranya BPPD yang diwakili Safari, LPMD yang diwakili Zainuri, sekretaris desa, unsur Posyandu, Pustu, kader kesehatan, Karang Taruna, serta unsur terkait lainnya.
Kunjungan ini tidak sekadar menjadi agenda pembelajaran di luar desa, tetapi juga membawa misi untuk menghidupkan kembali gerakan pemilahan dan pengolahan sampah serta mengaktifkan kembali bank sampah di Desa Tenaru.
“Bagi kami, penghargaan dari lomba 6 SPM bukan sekadar capaian yang patut disyukuri, tetapi juga momentum untuk terus belajar dan berbenah. Kami ingin pengalaman dari Kampung Edukasi Sampah ini menjadi bekal untuk menghidupkan kembali gerakan pilah dan olah sampah serta mengaktifkan bank sampah di Desa Tenaru. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai kunjungan, tetapi berlanjut menjadi aksi nyata yang melibatkan masyarakat,” ujar Kepala Desa Tenaru, Heri Prasetyono.
Desa Tenaru memiliki karakteristik wilayah yang strategis, berada dekat pusat kecamatan dan kawasan perkotaan, dengan aktivitas industri serta lingkungan sekolah. Kondisi tersebut menjadikan pengelolaan lingkungan sebagai bagian penting dari upaya menjaga kebersihan dan kesehatan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan dan pembuangan. Diperlukan perubahan perilaku masyarakat melalui pemilahan sejak dari sumber, pengolahan sampah organik, pemanfaatan kembali material yang masih bernilai, serta sistem pengelolaan yang berjalan secara konsisten.
Di Kampung Edukasi Sampah, rombongan mengikuti sesi berbagi pengalaman mengenai profil dan perjalanan pengembangan KES, berbagai persoalan persampahan di lingkungan masyarakat, serta strategi memulai dan mempertahankan gerakan pengelolaan sampah.
Peserta juga mendapatkan penjelasan tentang pemilahan sampah organik dan anorganik, pembuatan kompos dengan metode Takakura, pemanfaatan eco enzyme, serta pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah.
Pembelajaran dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL), panel surya, dan bank sampah. Melalui pengamatan langsung, peserta memperoleh gambaran mengenai keterkaitan pengelolaan sampah, pengolahan limbah, dan pemanfaatan energi dalam membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Kader Lingkungan Retno Mulyo menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah harus dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari, terutama membiasakan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuangnya. Kita perlu mulai memilah sejak dari rumah, memanfaatkan sampah organik, dan menyalurkan sampah anorganik yang masih bernilai melalui bank sampah. Langkahnya mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, dampaknya bisa semakin besar,” ungkap Retno.
Menurutnya, edukasi lingkungan perlu disertai praktik langsung agar masyarakat tidak hanya memahami pentingnya mengelola sampah, tetapi juga mengetahui cara memulai dan mempertahankan kebiasaan tersebut.
Salah satu praktik yang dapat dikembangkan di tingkat rumah tangga adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos menggunakan metode Takakura. Dengan pengelolaan yang tepat, sisa makanan dan bahan organik lainnya dapat dimanfaatkan menjadi kompos untuk tanaman, sekaligus mengurangi sampah yang harus dibuang.
Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah dapat dikumpulkan melalui bank sampah untuk selanjutnya disalurkan ke rantai pemanfaatan atau daur ulang yang sesuai.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana tanpa harus menunggu tersedianya fasilitas berskala besar. Hal terpenting adalah kesesuaian metode dengan kondisi masyarakat dan konsistensi dalam pelaksanaannya.
Kader Lingkungan Esther Erawati menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan program pengelolaan sampah, termasuk menghidupkan kembali bank sampah di Desa Tenaru.
“Bank sampah bukan hanya tempat mengumpulkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi. Lebih dari itu, bank sampah merupakan sarana edukasi untuk membangun kepedulian, kedisiplinan, dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan. Kuncinya adalah konsistensi pengelolaan dan keterlibatan warga. Karena itu, gerakan ini perlu dihidupkan bersama, bukan hanya dibebankan kepada segelintir orang,” jelas Esther.
Ia berharap pengalaman belajar di Kampung Edukasi Sampah dapat menjadi inspirasi bagi Desa Tenaru untuk mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat setempat.
Dalam praktiknya, keberlanjutan bank sampah membutuhkan pengelola yang aktif, jadwal pelayanan yang teratur, pencatatan yang transparan, serta sosialisasi yang berkesinambungan. Dukungan pemerintah desa dan keterlibatan warga menjadi faktor penting agar kegiatan tidak berhenti setelah semangat awal terbentuk.
Bank sampah juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran bahwa sampah yang dipilah dengan benar memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali. Namun, manfaat tersebut perlu didukung tata kelola yang baik dan jejaring penyaluran material yang berkelanjutan.
Salah satu kekuatan dari kunjungan Pemdes Tenaru adalah keterlibatan berbagai unsur kelembagaan masyarakat. Perangkat desa, Posyandu, Pustu, kader kesehatan, dan Karang Taruna memiliki ruang untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Kader kesehatan dapat membantu menyampaikan edukasi kebersihan lingkungan kepada keluarga dan masyarakat. Karang Taruna dapat mengembangkan kampanye kreatif, kegiatan pemilahan, dan gerakan peduli lingkungan yang melibatkan generasi muda.
Sementara itu, pemerintah desa bersama lembaga kemasyarakatan dapat memperkuat koordinasi, memfasilitasi kegiatan sesuai kemampuan desa, dan mendorong partisipasi masyarakat secara lebih luas.
Pengelolaan sampah juga berkaitan erat dengan kesehatan lingkungan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyumbat saluran air, mengganggu kebersihan, serta menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya vektor penyakit. Karena itu, upaya mengurangi sampah dan menjaga lingkungan tetap bersih merupakan bagian dari membangun kehidupan masyarakat yang lebih sehat.
Dengan keterlibatan lintas unsur tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan atau kelompok tertentu, tetapi berkembang menjadi kebiasaan bersama yang dimulai dari setiap rumah tangga.
Kunjungan ke Kampung Edukasi Sampah memberikan pembelajaran bahwa keberhasilan program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan fasilitas yang tersedia, tetapi juga oleh kepemimpinan, partisipasi masyarakat, dan konsistensi pelaksanaan.
Tantangan berikutnya bagi Desa Tenaru adalah menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh menjadi program yang dapat dijalankan secara nyata. Langkah awal dapat dilakukan melalui pemetaan sumber dan jenis sampah, penentuan wilayah percontohan, pembentukan tim penggerak, serta penyusunan jadwal pemilahan dan pengumpulan sampah.
Pengaktifan kembali bank sampah juga dapat dilakukan secara bertahap, disertai sosialisasi kepada warga dan evaluasi berkala. Kemajuan program dapat diukur melalui indikator sederhana, seperti jumlah rumah tangga yang mulai memilah sampah, keteraturan kegiatan bank sampah, partisipasi warga, serta berkurangnya sampah campuran yang dibuang.
Langkah-langkah tersebut penting agar wisata edukasi tidak berhenti sebagai kegiatan kunjungan, melainkan menjadi awal dari gerakan lingkungan yang terencana dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, penghargaan dari lomba 6 SPM telah membuka kesempatan bagi Pemdes Tenaru untuk memperluas wawasan dan memperkuat kerja sama antarelemen masyarakat. Tantangan selanjutnya adalah memastikan bahwa semangat belajar tersebut berlanjut menjadi kebiasaan baru di lingkungan desa.
Sebab, desa yang bersih tidak lahir hanya dari kegiatan membersihkan lingkungan sesekali, tetapi dari kesadaran memilah sampah sejak dari rumah, sistem pengelolaan yang berjalan, dan masyarakat yang konsisten bergerak bersama.
Dari Tenaru, pesan perubahan itu menemukan maknanya: prestasi bukanlah garis akhir, melainkan kesempatan untuk melangkah lebih jauh demi lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih sehat, dan masa depan desa yang berkelanjutan.









