banner 728x90

IDOARJO – Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Sembilan siswa SMP Islam Terpadu (SMPIT) Al Ibrah Gresik bersama seorang guru pendamping membuktikan bahwa perjalanan sederhana menggunakan transportasi umum dapat menjadi pengalaman belajar yang kaya makna.

Melalui kegiatan Backpacker SMPIT Al Ibrah Tahun Ajaran 2026–2027, para siswa melakukan perjalanan edukatif dengan memanfaatkan transportasi umum. Perjalanan dimulai dari sekolah mereka di Gresik menuju Kampung Edukasi Sampah di Sekardangan, Sidoarjo, menggunakan bus. Setelah belajar di Kampung Edukasi Sampah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Mojokerto, sebelum meneruskan petualangan edukatif ke Malang.

Bukan sekadar perjalanan wisata, kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran nyata yang mengajak siswa keluar dari rutinitas sekolah untuk mengenal kehidupan, lingkungan, dan masyarakat secara langsung.

Salah satu tujuan perjalanan tersebut adalah Kampung Edukasi Sampah di Sekardangan, Sidoarjo, sebuah kawasan pembelajaran lingkungan berbasis masyarakat yang mengajak pengunjung memahami bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga dan aktivitas sehari-hari.

Di tempat ini, para siswa berkesempatan mengenal praktik pengelolaan sampah yang melibatkan partisipasi masyarakat, mulai dari pemilahan sampah, pemanfaatan sampah bernilai ekonomi, hingga berbagai upaya mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Pengalaman ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman bahwa persoalan sampah bukan semata-mata tanggung jawab petugas kebersihan atau pemerintah. Setiap orang memiliki peran, dimulai dari kebiasaan sederhana: memilah sampah, mengurangi barang sekali pakai, dan bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.

Kampung Edukasi Sampah menjadi salah satu ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan dengan praktik kehidupan sehari-hari. Para siswa tidak hanya melihat bagaimana pengelolaan sampah dilakukan, tetapi juga diajak memahami pentingnya keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Hal menarik dari kegiatan ini adalah pilihan menggunakan transportasi umum sebagai bagian dari proses pembelajaran. Perjalanan dengan bus antarkota memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar mengenali rute, mengatur waktu, menjaga barang bawaan, mematuhi aturan perjalanan, serta membangun kedisiplinan dan tanggung jawab bersama.

Dalam perjalanan tersebut, siswa juga dapat belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Mereka berlatih bersikap tertib, menghargai sesama penumpang, menjaga kebersihan fasilitas umum, dan memahami bahwa ruang publik merupakan milik bersama yang harus dijaga.

Pengalaman semacam ini menjadi penting dalam membangun karakter generasi muda. Kemandirian tidak cukup hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi perlu dilatih melalui pengalaman langsung, dengan tetap memperhatikan pendampingan dan keselamatan siswa.

Rangkaian perjalanan yang melintasi beberapa kota di Jawa Timur tersebut memberikan perspektif baru kepada siswa bahwa setiap tempat dapat menjadi ruang belajar.

Dari Gresik, mereka memulai perjalanan dengan semangat menjelajah. Di Sidoarjo, mereka mengenal praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Perjalanan kemudian berlanjut ke Mojokerto dan Malang untuk mengikuti agenda pembelajaran berikutnya.

Dengan konsep backpacker edukatif, perjalanan menjadi sarana untuk menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan kehidupan nyata. Siswa belajar bahwa ilmu tidak hanya diperoleh dari buku pelajaran, tetapi juga dari orang-orang yang ditemui, lingkungan yang diamati, serta tantangan yang dihadapi selama perjalanan.

Kegiatan ini sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk membangun rasa ingin tahu, keberanian mencoba hal baru, kemampuan beradaptasi, dan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan di mana pun mereka berada.

Kunjungan siswa SMPIT Al Ibrah Gresik ke Kampung Edukasi Sampah memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan dan komunitas masyarakat dalam memperkaya proses pembelajaran.

Sekolah membangun fondasi pengetahuan dan karakter, sementara lingkungan masyarakat menghadirkan pengalaman nyata yang membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pesan penting dari perjalanan ini sederhana: menjadi generasi yang cerdas tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan. Generasi muda juga perlu memiliki kemandirian, kepedulian sosial, kedisiplinan, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.

Melalui perjalanan dari Gresik menuju Sidoarjo, Mojokerto, dan Malang, para siswa diajak memahami bahwa petualangan terbaik bukan sekadar tentang seberapa jauh mereka pergi, melainkan seberapa banyak pelajaran yang dibawa pulang.

banner 300x250

Berita Terkait