banner 728x90

SIDOARJO — Belajar tentang lingkungan tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Bagi siswa SDN 195 Gresik, halaman dan sudut-sudut Kampung Edukasi Sampah (KES) di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman nyata tentang bagaimana sampah dikelola dan lingkungan dijaga.

Melalui kegiatan outing class, para siswa diajak mengenal lebih dekat berbagai praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga melihat, mencoba, bertanya, dan berinteraksi langsung dengan berbagai fasilitas edukasi lingkungan yang ada di Kampung Edukasi Sampah.

Sejak kedatangan rombongan, suasana langsung terasa semarak. Rasa ingin tahu anak-anak terlihat dari berbagai pertanyaan yang muncul ketika mereka diajak berkeliling mengenal perjalanan sampah, mulai dari pemilahan hingga pengolahan.

Di Kampung Edukasi Sampah, para siswa diperkenalkan bahwa sampah sebenarnya bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Jika dipilah dan dikelola dengan benar, sebagian sampah masih memiliki nilai guna bahkan nilai ekonomi.

Konsep sederhana “pilah dari sumber” menjadi salah satu pesan penting yang diperkenalkan kepada para siswa. Sampah organik dan anorganik dipisahkan agar dapat dikelola sesuai karakteristiknya.

Untuk sampah organik, siswa diperkenalkan dengan berbagai metode pengolahan seperti komposter dan pengolahan bahan organik lainnya. Sementara sampah anorganik dikenalkan melalui konsep bank sampah dan ekonomi sirkular.

Pengalaman tersebut membuat proses belajar menjadi lebih konkret. Anak-anak dapat melihat langsung bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kegiatan outing class juga dikemas secara interaktif. Anak-anak diberikan kesempatan untuk mengamati berbagai fasilitas yang ada, berdiskusi, berfoto, hingga mengikuti aktivitas edukatif yang membuat mereka lebih dekat dengan isu lingkungan.

Bagi anak-anak, pengalaman seperti ini memberikan perspektif berbeda. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sesuatu yang rumit dan tidak harus menunggu dewasa.

Membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memanfaatkan kembali barang yang masih bernilai merupakan kebiasaan sederhana yang dapat dimulai sejak sekarang.

“Harapannya, anak-anak tidak hanya pulang membawa pengalaman, tetapi juga membawa kebiasaan baru. Karena pendidikan lingkungan yang paling baik adalah ketika pengetahuan berubah menjadi perilaku,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Kampung Edukasi Sampah selama ini dikembangkan sebagai ruang belajar lingkungan berbasis masyarakat. Tidak hanya menjadi tempat pengelolaan sampah, KES juga menjadi ruang edukasi yang mempertemukan masyarakat, pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga berbagai institusi yang ingin belajar tentang praktik keberlanjutan dari tingkat paling sederhana: lingkungan tempat tinggal.

Setiap tahunnya, KES dikunjungi lebih dari 3.000 orang dari berbagai kalangan. Mereka datang untuk belajar mengenai pemilahan sampah, bank sampah, pengolahan sampah organik, komposter, hidroponik, sumur resapan, energi terbarukan, hingga berbagai inovasi lingkungan berbasis komunitas.

Kehadiran siswa SDN 195 Gresik menjadi bagian dari upaya memperluas pendidikan lingkungan sejak usia dini. Sebab, membangun budaya peduli lingkungan bukan hanya tentang membangun fasilitas pengelolaan sampah. Lebih jauh dari itu, yang dibangun adalah kesadaran dan kebiasaan manusia yang hidup di dalamnya.

Outing class SDN 195 Gresik menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana dan dekat dengan kehidupan anak-anak.

Sampah yang mereka hasilkan setiap hari dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan tanggung jawab, disiplin, kreativitas, gotong royong, sekaligus kepedulian terhadap bumi.

Bumi tidak membutuhkan anak-anak yang hanya hafal tentang lingkungan. Bumi membutuhkan generasi yang terbiasa menjaganya.

Dan mungkin, perubahan besar tentang lingkungan memang harus dimulai dari langkah kecil seorang anak dari tangannya saat memilah sampah, dari kebiasaannya membawa barang yang dapat digunakan kembali, dan dari keberaniannya mengajak teman serta keluarganya melakukan hal yang sama.

banner 300x250

Berita Terkait