PKK RW 04 Medokan Ayu Belajar Manajemen Bank Sampah Berbasis Komunitas
Sidoarjo – Upaya membangun lingkungan yang bersih dan berkelanjutan perlu dimulai dari sumber sampah itu sendiri, yaitu rumah tangga. Kesadaran tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting dalam kegiatan study tiru ibu-ibu PKK RW 04 Kelurahan Medokan Ayu, Surabaya, di Kampung Edukasi Sampah (KES), RT 23 RW 07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo.
Kunjungan ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana pengelolaan sampah dapat dibangun melalui keterlibatan masyarakat, khususnya melalui Bank Sampah Telulikur yang dikembangkan Kampung Edukasi Sampah dengan prinsip zero waste, pemberdayaan warga dan ekonomi sirkular.
Peserta tidak hanya diajak melihat aktivitas pengelolaan sampah, tetapi juga memahami bahwa keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan sistem dan manajemen yang konsisten, mulai dari pemilahan di rumah, pengumpulan, penimbangan, pencatatan, pengolahan hingga pemanfaatan kembali sampah.
Pegiat lingkungan Edi Priyanto dalam pemaparan kegiatan tersebut mengatakan, persoalan sampah sesungguhnya bukan dimulai ketika sampah sampai di tempat pembuangan, melainkan sejak sampah dihasilkan dari rumah tangga.
“Memilah sampah dari rumah adalah langkah sederhana, tetapi memiliki dampak besar. Selanjutnya, bank sampah harus hadir sebagai sistem manajemen di tingkat RT atau RW yang mengorganisasi warga, memastikan sampah terpilah dan terkelola, sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan manfaat lingkungan,” ujar Edi.
Menurutnya, kebiasaan memilah menjadi fondasi penting karena sampah yang sudah tercampur akan lebih sulit untuk dimanfaatkan kembali. Sebaliknya, ketika masyarakat terbiasa memilah sejak dari sumbernya, proses pengelolaan di tingkat lingkungan menjadi jauh lebih mudah.
“Jadi, bank sampah bukan sekadar tempat menimbang dan menjual sampah, tetapi menjadi pusat gerakan masyarakat untuk membangun budaya pengelolaan sampah secara berkelanjutan,” tambahnya.
Edi menilai, keberadaan bank sampah di lingkungan RT atau RW memiliki posisi strategis karena menjadi penghubung antara perilaku rumah tangga dengan sistem pengelolaan sampah di lingkungan.
Bank sampah perlu dikelola secara profesional dan berkelanjutan, dengan pembagian tugas yang jelas, administrasi dan pencatatan yang tertib, mekanisme pengumpulan serta penimbangan yang teratur, pengelolaan material, jejaring dengan pihak penerima atau pengepul, hingga edukasi kepada masyarakat.
Dengan demikian, bank sampah tidak berhenti pada aktivitas transaksi sampah, tetapi menjadi kelembagaan masyarakat yang menggerakkan perubahan perilaku.
“Kalau setiap rumah memilah, kemudian bank sampah mengelola dan memastikan sampah tersebut memiliki jalur pengolahan yang jelas, maka RT atau RW sebenarnya sudah memiliki sebuah sistem pengelolaan sampah dari hulu sampai hilir,” jelas Edi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Bank Sampah Telulikur yang menempatkan sampah terkelola sebagai target pengelolaan dan menjadikan ekonomi sirkular sebagai prinsip utama.
Dalam kegiatan study tiru tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman bahwa setiap jenis sampah membutuhkan pendekatan pengelolaan yang berbeda.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai dapat dikelola melalui penjualan kembali maupun dikembangkan menjadi produk kreatif seperti souvenir, prakarya dan kerajinan tangan warga.
Sementara sampah organik dapat diolah di tingkat rumah tangga maupun komunal. Kampung Edukasi Sampah mengembangkan sejumlah metode, antara lain Komposter Takakura, rumah maggot, komposter aerob, biopori dan sumur resapan. Hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan menjadi kompos padat dan pupuk cair organik.
Menurut Edi, pola tersebut menunjukkan bahwa konsep pengelolaan sampah seharusnya tidak lagi menggunakan pendekatan “kumpul–angkut–buang”, tetapi mulai bergeser menjadi “pilah–kelola–manfaatkan.”
Lebih jauh, pengelolaan bank sampah juga dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membangun kepedulian lingkungan.
“Yang perlu kita ubah adalah cara pandang terhadap sampah. Sampah bukan semata-mata sesuatu yang harus dibuang. Ketika dipilah dan dikelola dengan benar, sebagian bisa memiliki nilai ekonomi, sementara sampah organik dapat dikembalikan menjadi kompos dan nutrisi bagi tanaman,” kata Edi.
Dalam konsep yang dikembangkan Bank Sampah Telulikur, pengelolaan sampah diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengurangi beban lingkungan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Namun demikian, menurut Edi, keberhasilan bank sampah tidak seharusnya hanya diukur dari nilai transaksi.
“Ukuran keberhasilan bank sampah bukan hanya berapa rupiah yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah berapa banyak rumah tangga yang berubah perilakunya, berapa banyak warga yang konsisten memilah, dan seberapa kuat sistem pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.”
Kunjungan PKK RW 04 Medokan Ayu diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakteristik lingkungan setempat.
Peran PKK dinilai sangat strategis karena perubahan perilaku dapat dimulai dari keluarga. Dari rumah, kebiasaan memilah dapat dibangun; dari RT dan RW, kebiasaan tersebut dapat dikonsolidasikan melalui bank sampah menjadi sebuah gerakan bersama.
Dari rumah lahir kebiasaan. Dari RT tumbuh gerakan. Dari RW terbentuk sistem. Pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga menyangkut perubahan perilaku, pemberdayaan masyarakat, ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan.
“Kalau kita ingin menyelesaikan persoalan sampah dalam jangka panjang, jangan hanya berpikir bagaimana mengangkut sampah. Mari berpikir bagaimana sampah tidak lagi menjadi masalah sejak dari rumah,” pungkas Edi.
Memilah dari rumah, mengelola bersama, memberi nilai pada sampah, dan menjaga lingkungan langkah sederhana yang jika dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga dapat menjadi gerakan besar untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.










