Kunjungan Untuk Memperkuat Kesiapan Berseri Mandiri 2026
Kelurahan Arjowinangun Malang Study Pembelajaran di Kampung Edukasi Sampah
Sidoarjo – Dalam rangka pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, melaksanakan Kegiatan Penguatan Kelembagaan dengan tema “Pelatihan dan Pembekalan Pengelolaan Sampah untuk Mendukung Program Kelurahan Berseri Tahun 2026” melalui kunjungan pembelajaran ke Kampung Edukasi Sampah (KES) RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, pada Minggu, 1 Februari 2026.
Program Desa/Kelurahan Bersih dan Lestari (BERSERI) merupakan program inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur sebagai media pembinaan dan pengakuan terhadap upaya pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan membangun komitmen desa dan kelurahan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, hijau, dan lestari melalui keterlibatan aktif warga dan pemangku kepentingan.
Kegiatan ini diikuti oleh para Kader Lingkungan serta pengurus RT dan RW Kelurahan Arjowinangun sebagai bagian dari persiapan menghadapi penilaian Kelurahan Berseri Mandiri Tahun 2026. Dalam skema penilaian BERSERI, kategori Mandiri merupakan tingkat tertinggi, yang mensyaratkan pengelolaan lingkungan telah berjalan minimal di empat RW dengan keterwakilan RT yang lebih luas serta menunjukkan keberlanjutan program secara nyata.
Para peserta mendapatkan pembekalan langsung mengenai praktik pengelolaan lingkungan yang menjadi komponen utama penilaian BERSERI, meliputi enam aspek utama, yaitu: kepemimpinan dan kelembagaan, kebijakan lingkungan, pengelolaan sampah berbasis 3R, pengelolaan ruang terbuka hijau, konservasi energi, serta konservasi air. Pengelolaan sampah menjadi komponen dengan bobot tertinggi dalam penilaian, mencapai 40 persen dari total nilai.
Kunjungan ini dilaksanakan di Kampung Edukasi Sampah sebagai lokasi pembelajaran lapangan yang merepresentasikan kesesuaian antara dokumen perencanaan dengan kondisi riil di masyarakat. Hal ini sejalan dengan mekanisme penilaian BERSERI yang tidak hanya berbasis administrasi dan dokumen, tetapi juga diverifikasi melalui penilaian lapangan oleh tim yang terdiri dari unsur pemerintah, praktisi lingkungan, dan lembaga swadaya masyarakat.
Sebagai rujukan praktik baik, Kampung Edukasi Sampah Kelurahan Sekardangan telah meraih Piagam Penghargaan Program Berseri Mandiri pada tahun 2022, dan dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi warga yang konsisten, mulai dari pengolahan sampah, konservasi air, pemanfaatan energi terbarukan, hingga penguatan ruang terbuka hijau secara komunal.
Pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, dalam sesi pemaparan menegaskan bahwa Berseri Mandiri bukan sekadar capaian administratif, melainkan buah dari proses sosial yang panjang.
“Dalam konteks Berseri Mandiri, yang paling penting bukan dokumennya, tetapi ekosistemnya. Ada kepemimpinan yang memberi arah, ada kader yang menggerakkan, dan ada warga yang mau terlibat. Jika tiga ini berjalan, maka indikator Berseri pengelolaan sampah, konservasi air, energi, hingga ruang terbuka hijau akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Kampung Edukasi Sampah tidak dibangun untuk mengejar penilaian, melainkan menjawab kebutuhan riil warga.
“Kami tidak mulai dari target nilai, tapi dari perubahan perilaku. Ketika budaya pilah dan olah sampah sudah menjadi kebiasaan, penilaian Berseri Mandiri hanya menjadi pengakuan atas proses itu,” tambahnya.
Sementara itu, Hariyanto, kader lingkungan Kampung Edukasi Sampah, menekankan bahwa keberhasilan Berseri Mandiri sangat ditentukan oleh peran kader di tingkat tapak.
“Berseri Mandiri itu hidup di tangan kader. Mulai dari mendampingi warga memilah sampah, mengelola komposter, menjaga bank sampah, sampai memastikan biopori dan drainase berfungsi. Kader bukan hanya pelaksana, tapi penggerak perubahan perilaku,” jelasnya.
Dari pihak peserta, Lurah Arjowinangun, Yoga Pandu Waskita, menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi bagian dari strategi membangun kesiapan kelembagaan secara substantif.
“Kami ingin memastikan bahwa ketika Kelurahan Arjowinangun menuju Berseri Mandiri 2026, yang kami bangun bukan hanya laporan, tetapi sistem yang hidup di masyarakat. Kampung Edukasi Sampah memberi gambaran nyata bagaimana indikator Berseri bisa diterjemahkan menjadi gerakan warga,” ungkapnya.
Melalui kegiatan kunjungan pembelajaran ini, para kader dan pengurus wilayah tidak hanya memperoleh wawasan teknis, tetapi juga pemahaman menyeluruh tentang alur penilaian BERSERI, mulai dari pengusulan, penilaian dokumen, hingga verifikasi lapangan. Dengan pendekatan tersebut, Berseri Mandiri tidak lagi dipahami sebagai program lomba semata, melainkan sebagai proses transformasi sosial menuju kelurahan yang bersih, sehat, mandiri, dan lestari secara berkelanjutan.








