banner 728x90

Sidoarjo, 29 Juni 2026 – Kampung Edukasi Sampah (KES) Sekardangan, Sidoarjo kembali menegaskan perannya sebagai pusat pembelajaran dan inovasi lingkungan berbasis masyarakat. Kali ini, Kampung Edukasi Sampah dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan penelitian fundamental yang dilakukan oleh tim peneliti Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya yang dipimpin Nurleila Jum'ati, S.Psi., MM, M. Psi., Psikolog bersama para dosen dan peneliti lintas disiplin.

Penelitian bertajuk "Integrasi Green Communication dan Kolaborasi Pentahelix melalui Eco-AISAS Guna Menguatkan Green Human Capital dan Green Social Capital di Komunitas Gerbangkertosusila" ini merupakan riset strategis yang bertujuan merumuskan model pembangunan masyarakat berkelanjutan melalui penguatan komunikasi lingkungan, kolaborasi multipihak, serta perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, urbanisasi, serta persoalan pengelolaan lingkungan di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila, penelitian ini hadir sebagai upaya menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan sekaligus praktik nyata. Tim peneliti meyakini bahwa keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemampuan membangun kesadaran, perilaku, jejaring sosial, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Kampung Edukasi Sampah dipilih karena dinilai berhasil menunjukkan transformasi lingkungan yang lahir dari kekuatan masyarakat. Berawal dari gerakan sederhana memilah sampah dari rumah, kini kawasan tersebut berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan yang setiap tahunnya dikunjungi ribuan peserta dari berbagai daerah, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, instansi pemerintah, perusahaan, hingga komunitas. Berbagai inovasi seperti edukasi pilah sampah, pengolahan sampah organik dengan metode Takakura dan komposter aerob, budidaya maggot BSF, hidroponik, energi terbarukan, bank sampah, hingga permainan edukatif berbasis lingkungan menjadi bukti bahwa perubahan perilaku masyarakat dapat diwujudkan melalui pendekatan partisipatif.

Dalam penelitian ini, Kampung Edukasi Sampah tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga berfungsi sebagai living laboratory, yaitu laboratorium hidup tempat teori diuji melalui praktik nyata di tengah masyarakat. Tim peneliti melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), serta pengumpulan data terhadap berbagai aktor yang terlibat dalam ekosistem lingkungan, meliputi pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Seluruh proses tersebut menjadi bagian dari penyusunan model Green Communication berbasis pendekatan Eco-AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) untuk memperkuat Green Human Capital dan Green Social Capital.

Model Eco-AISAS sendiri dikembangkan sebagai pendekatan perubahan perilaku yang tidak berhenti pada penyampaian informasi semata. Masyarakat diajak untuk mengenali isu lingkungan, menumbuhkan ketertarikan, mencari informasi lebih lanjut, melakukan aksi nyata, hingga akhirnya membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain sehingga tercipta efek berantai yang memperluas gerakan kepedulian lingkungan. Penelitian ini juga mengintegrasikan konsep Kolaborasi Pentahelix, yakni sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan.

Pegiat lingkungan sekaligus Penggagas Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, menyampaikan bahwa penelitian ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dengan praktik pemberdayaan masyarakat.

"Bagi kami, Kampung Edukasi Sampah bukan sekadar tempat belajar mengelola sampah. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya dan karakter peduli lingkungan melalui perubahan perilaku, kolaborasi, dan keteladanan. Sampah hanyalah pintu masuk untuk membangun modal sosial masyarakat. Ketika masyarakat memiliki kesadaran, saling percaya, mampu berkolaborasi, dan bergerak bersama, maka berbagai persoalan lingkungan akan lebih mudah diselesaikan."

Menurut Edi, hasil penelitian ini diharapkan mampu memperkuat fondasi ilmiah atas berbagai praktik baik yang selama ini telah berjalan di Kampung Edukasi Sampah.
"Selama ini kami bergerak berdasarkan pengalaman lapangan dan kebutuhan masyarakat. Melalui penelitian Universitas Wijaya Putra, praktik-praktik tersebut akan diperkaya dengan kajian ilmiah sehingga dapat menjadi model yang lebih terukur, terdokumentasi, serta dapat direplikasi oleh komunitas lain di Indonesia. Inilah pentingnya kolaborasi antara akademisi dan komunitas dalam menghasilkan inovasi sosial yang berdampak luas."

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti, Nurleila Jum'ati, S.Psi., MM, menjelaskan bahwa Kampung Edukasi Sampah merupakan contoh nyata bagaimana komunikasi lingkungan mampu menggerakkan masyarakat untuk menjadi pelaku utama perubahan.

"Kami melihat Kampung Edukasi Sampah memiliki ekosistem kolaborasi yang sangat lengkap. Di sini terdapat keterlibatan masyarakat, pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, serta kader-kader muda lingkungan yang aktif menjadi agen perubahan. Kondisi ini sangat relevan dengan konsep Green Communication dan Kolaborasi Pentahelix yang sedang kami kembangkan."

Ia menambahkan bahwa keberhasilan sebuah gerakan lingkungan tidak dapat diukur hanya dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi dari kemampuan membangun perubahan perilaku yang berkelanjutan.
"Melalui penelitian ini kami ingin menghasilkan model yang bukan hanya kuat secara akademik, tetapi juga aplikatif. Harapannya, model Green Communication berbasis Eco-AISAS yang lahir dari pengalaman Kampung Edukasi Sampah dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, komunitas, perguruan tinggi, maupun dunia usaha dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi tantangan lingkungan di masa depan."

Penelitian ini ditargetkan menghasilkan berbagai luaran strategis, antara lain penyusunan model Green Communication dan Kolaborasi Pentahelix berbasis Eco-AISAS, basis data komunikasi lingkungan, rekomendasi kebijakan, serta publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi Scopus.

Kepercayaan Universitas Wijaya Putra menjadikan Kampung Edukasi Sampah sebagai lokasi penelitian semakin mengukuhkan eksistensi kawasan ini sebagai pusat inovasi lingkungan berbasis masyarakat. Lebih dari sekadar destinasi edukasi, Kampung Edukasi Sampah telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan ilmu pengetahuan, aksi nyata, dan partisipasi masyarakat dalam membangun masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari komunitas yang mau belajar, bergerak, dan menginspirasi. Kampung Edukasi Sampah membuktikan bahwa dari sebuah kampung, lahir gagasan yang dapat memberi manfaat bagi kawasan metropolitan, bahkan menjadi referensi bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

banner 300x250

Berita Terkait