banner 728x90

Sidoarjo, 2 Juli 2026 – Tim peneliti Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya melaksanakan rangkaian Penelitian Fundamental Reguler (PFR) Tahun 2026 dengan mengangkat tema "Integrasi Green Communication dan Kolaborasi Pentahelix melalui Eco-AISAS Guna Menguatkan Green Human Capital dan Green Social Capital di Komunitas Gerbangkertosusila." Penelitian diketuai oleh Nurleila Jum'ati, S.Psi., MM, M. Psi., Psikolog bersama tim dosen multidisiplin sebagai upaya menghasilkan model konseptual penguatan masyarakat yang adaptif terhadap tantangan pembangunan berkelanjutan.

Penelitian ini dilatarbelakangi semakin kompleksnya tantangan lingkungan di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila, mulai dari pertumbuhan kawasan perkotaan, perubahan pola konsumsi masyarakat, peningkatan volume sampah, tekanan terhadap daya dukung lingkungan, hingga perlunya memperkuat partisipasi masyarakat dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan baru yang tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada komunikasi publik yang efektif, kolaborasi multipihak, serta perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui penelitian ini, tim Universitas Wijaya Putra mengembangkan model Green Communication yang diintegrasikan dengan pendekatan Eco-AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) sebagai kerangka perubahan perilaku masyarakat. Model tersebut diperkuat melalui konsep Kolaborasi Pentahelix, yaitu sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media dalam membangun Green Human Capital serta Green Social Capital sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Berbeda dengan penelitian yang hanya berfokus pada satu lokasi, penelitian ini dilaksanakan di sejumlah komunitas yang telah menunjukkan praktik baik dalam pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, maupun pengembangan ekonomi hijau di kawasan Gerbangkertosusila.

Salah satu lokasi penelitian adalah Kampung Edukasi Sampah (KES) Sekardangan, Sidoarjo, yang selama ini dikenal sebagai pusat edukasi lingkungan berbasis masyarakat. Di lokasi ini, tim peneliti mengkaji bagaimana komunikasi lingkungan dibangun melalui proses edukasi, kaderisasi, partisipasi masyarakat, serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam membentuk budaya peduli lingkungan.

Penelitian juga dilakukan di Rumah Kompos WEHASTA yang dikelola bersama Forum Kabupaten Sehat (FKS) Kabupaten Mojokerto di Desa Trawas. Komunitas ini menjadi contoh sinergi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan warga dalam mengembangkan pengelolaan sampah organik berbasis komunitas sebagai bagian dari gerakan Kabupaten Sehat.

Di Kota Surabaya, tim melakukan kajian di Kampung ProKlim RW 1 Banjar Sugihan, penerima Trofi ProKlim Lestari Tingkat Nasional. Kampung ini berhasil mengembangkan berbagai inovasi lingkungan sekaligus menciptakan green jobs bagi generasi muda melalui pengelolaan rumah hijau, pengolahan sampah organik menjadi pelet pakan ternak, serta berbagai aktivitas ekonomi sirkular yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Lokasi berikutnya adalah Pasar Keramat di Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Pasar tematik bernuansa tradisional ini menghadirkan konsep unik berupa transaksi menggunakan koin khusus dan pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Berawal dari upaya mengubah citra sebuah kawasan menjadi ruang publik yang produktif, Pasar Keramat kini berkembang sebagai destinasi eduwisata berbasis budaya, lingkungan, dan ekonomi lokal, dengan nilai perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp150–200 juta setiap penyelenggaraan serta memberdayakan sebagian besar perempuan di desa sebagai pelaku usaha.

Penelitian juga mencakup Yayasan Bambu Lestari Lingkungan (YBLL) di Claket, Pacet, Kabupaten Mojokerto yang berperan dalam mengembangkan produk ramah lingkungan sekaligus mendukung keberlangsungan Pasar Keramat melalui penyediaan berbagai sarana pendukung berbasis bambu dan hasil karya masyarakat. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya, konservasi lingkungan, dan penguatan ekonomi lokal dapat berjalan secara simultan.

Selain observasi lapangan, penelitian diperkaya melalui in-depth interview dengan sejumlah akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi pada bidang komunikasi, sumber daya manusia, inovasi sosial, dan media massa.

Narasumber yang diwawancarai antara lain Dr. Fransiska Dyah Ayu Puspitasari, S.Psi., MM dari Universitas Gresik, Dr. Tri Siwi Agustina, S.E., M.Si dari Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, serta Eddy Prastyo, Chief Suara Surabaya Media. Ketiga narasumber memberikan perspektif mengenai pentingnya komunikasi lingkungan, penguatan modal manusia dan modal sosial hijau, serta peran media sebagai penghubung antar unsur Pentahelix dalam membangun perubahan perilaku masyarakat.

Ketua Tim Peneliti, Nurleila Jum'ati, S.Psi., MM, M. Psi., Psikolog menjelaskan bahwa penelitian ini dirancang untuk menghasilkan model yang tidak hanya memiliki kontribusi akademik, tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi pembangunan masyarakat.

"Kami ingin menghasilkan model Green Communication yang lahir dari praktik-praktik baik di lapangan. Karena itu penelitian tidak hanya dilakukan melalui studi literatur, tetapi juga dengan mengamati secara langsung komunitas-komunitas yang telah berhasil membangun kolaborasi, mengubah perilaku masyarakat, dan menciptakan dampak sosial maupun lingkungan yang nyata. Harapannya, model ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, maupun dunia usaha dalam memperkuat pembangunan berkelanjutan."

Menurutnya, pendekatan Eco-AISAS memberikan perspektif baru bahwa komunikasi lingkungan harus mampu menggerakkan masyarakat dari sekadar mengetahui informasi menuju tindakan nyata, kemudian mendorong mereka berbagi pengalaman sehingga tercipta efek multiplikasi dalam membangun budaya peduli lingkungan.

 

Pegiat lingkungan Edi Priyanto, yang turut menjadi salah satu informan penelitian, menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan penelitian yang mengedepankan praktik-praktik nyata di masyarakat.

"Keberhasilan membangun lingkungan tidak cukup diukur dari banyaknya program, tetapi dari sejauh mana masyarakat berubah dan mampu mempertahankan perubahan tersebut. Penelitian seperti ini penting karena menghubungkan pengalaman lapangan dengan kajian akademik sehingga lahir model yang lebih komprehensif, terukur, dan dapat direplikasi sesuai karakteristik masing-masing daerah."
Ia menambahkan bahwa pembangunan lingkungan yang berkelanjutan memerlukan sinergi seluruh unsur Pentahelix.

"Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, demikian pula komunitas. Ketika akademisi menghadirkan kajian ilmiah, dunia usaha mendukung inovasi, media memperkuat edukasi publik, dan masyarakat menjadi pelaku utama perubahan, maka pembangunan berkelanjutan akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat."

Penelitian ini ditargetkan menghasilkan model konseptual Green Communication berbasis Eco-AISAS, basis data praktik komunikasi lingkungan, rekomendasi kebijakan, serta publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi. Hasil penelitian diharapkan menjadi kontribusi nyata Universitas Wijaya Putra dalam mendukung pengembangan strategi komunikasi lingkungan dan kolaborasi multipihak guna memperkuat Green Human Capital dan Green Social Capital di kawasan Gerbangkertosusila maupun wilayah lain di Indonesia.

 

banner 300x250

Berita Terkait