Kotak Donasi Sampah Plastik, Ikhtiar Warga Tak Mewariskan Sampah
Sidoarjo - Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Di Kampung Edukasi Sampah RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, melakukan langkah sederhana dengan membuat dan menempatkan Kotak Donasi Sampah Plastik di lingkungan permukiman dan sejumlah fasilitas umum, termasuk masjid.
Kotak tersebut disiapkan sebagai tempat masyarakat mendonasikan sampah plastik seperti botol dan gelas plastik, kemasan minuman, serta jenis plastik lainnya yang masih memiliki nilai ekonomi.
Gerakan ini berangkat dari kesadaran bahwa sampah plastik yang dibuang hari ini tidak serta-merta hilang. Sampah tersebut membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai dan berpotensi menjadi persoalan lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketua RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Andi Hariyadi, mengatakan bahwa penyediaan kotak donasi merupakan upaya sederhana untuk membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat.
“Kami ingin mengajak warga mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu jangan langsung membuang sampah plastik. Pilah, kumpulkan, kemudian donasikan melalui kotak yang sudah disediakan. Kalau dilakukan bersama-sama, sampah yang awalnya tidak bernilai bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Andi.
Menurutnya, keberadaan kotak donasi juga diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan tanpa harus menunggu adanya program besar.
“Harapannya ini menjadi kebiasaan. Di rumah dipilah, kemudian dibawa dan dimasukkan ke kotak donasi. Jadi menjaga lingkungan bukan hanya ketika ada kegiatan kerja bakti, tetapi menjadi bagian dari keseharian warga,” tambahnya.

Sementara itu, Pegiat Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, mengatakan bahwa gerakan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
“Sampah plastik jangan hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang. Kalau dipilah dan dikelola dengan baik, sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi. Kita bisa mengumpulkan, memilah, menjual atau menyalurkannya kepada pihak yang dapat mengolahnya kembali. Di situlah ekonomi sirkular bisa berjalan,” jelas Edi.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah pada dasarnya bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab antargenerasi.
“Kita tidak ingin anak cucu kita nanti menerima warisan berupa tumpukan sampah dari apa yang kita konsumsi hari ini. Karena itu, memilah sampah adalah bentuk tanggung jawab kita. Jangan mewariskan kemudhorotan, tetapi wariskan lingkungan yang lebih baik,” tegasnya.
Menurut Edi, konsep ekonomi sirkular memberikan perspektif bahwa material yang sudah digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Sampah yang dipilah dapat dikumpulkan, memiliki nilai ekonomi, kemudian dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku atau produk baru.
Dari rumah, masuk ke kotak donasi, dikumpulkan melalui bank sampah, kemudian disalurkan untuk dimanfaatkan kembali.
Rangkaian tersebut menciptakan siklus yang memberikan manfaat sekaligus mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Penempatan kotak donasi di fasilitas umum seperti masjid juga memiliki nilai edukasi. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan lingkungan.
“Menjaga lingkungan juga bagian dari tanggung jawab moral kita. Ketika sebuah botol plastik tidak kita buang sembarangan, tetapi kita pilah dan kita donasikan untuk dikelola, mungkin nilainya kecil. Tetapi ketika dilakukan oleh ribuan orang secara konsisten, dampaknya luar biasa,” kata Edi.
Gerakan tersebut sekaligus mengajak masyarakat untuk naik satu tingkat dalam memperlakukan sampah.
Bukan sekadar “buang sampah pada tempatnya”, tetapi “pilah sampah agar kembali bernilai”.
Karena pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya tentang berapa banyak yang kita buang, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan setelah menggunakan sesuatu.
Satu botol plastik yang kita pilah hari ini mungkin terlihat kecil.
Namun, dari kebiasaan kecil itulah ekonomi sirkular tumbuh, lingkungan terjaga, dan masa depan anak cucu kita ikut diselamatkan.
“Sampah kita pilah, kita donasikan, kita kelola, dan kita manfaatkan kembali. Jangan wariskan sampah kepada anak cucu.”



