Ranting dan Daun Tak Perlu Dibakar, Jadi Kompos di Dalam Tanah
Sidoarjo - Potongan ranting dan daun hasil pemangkasan pohon sering kali dianggap sebagai limbah yang harus segera disingkirkan. Tidak sedikit masyarakat memilih membakarnya karena dinilai praktis untuk mengurangi tumpukan. Namun, cara tersebut justru berpotensi menimbulkan persoalan baru berupa asap dan polusi udara.
Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan, Kampung Edukasi Sampah (KES) RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, memilih pendekatan berbeda. Ranting dan daun hasil pemangkasan tidak dibakar, tetapi dicacah menggunakan mesin pencacah ranting dan daun, kemudian dimanfaatkan untuk proses pengomposan.
Hasil cacahan selanjutnya dimasukkan ke dalam sumur resapan untuk menjalani proses pengomposan secara alami di dalam tanah.
Saat ini, KES memiliki 14 sumur resapan yang selain dimanfaatkan untuk proses pengomposan material organik, juga berfungsi membantu mempercepat peresapan air hujan ke dalam tanah.
Pegiat Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, mengatakan bahwa ranting dan daun sebenarnya merupakan material organik yang dapat dikembalikan kepada alam.
“Ranting dan daun hasil pemangkasan jangan sampai justru menambah beban sampah. Kalau dibuang begitu saja, volumenya akan terus bertambah. Kalau dibakar, persoalannya berpindah menjadi asap dan polusi yang dapat mengganggu lingkungan,” ujar Edi.
Menurutnya, KES mencoba menghadirkan solusi sederhana melalui proses pencacahan dan pengomposan.
“Di KES kami mencoba melakukan inovasi sederhana. Ranting dan daun hasil pemangkasan kami cacah terlebih dahulu menggunakan mesin, supaya ukurannya lebih kecil dan lebih mudah mengalami proses penguraian. Setelah itu, hasil cacahannya kami masukkan ke dalam sumur resapan untuk dikomposkan secara alami di dalam tanah,” jelasnya.
Edi menambahkan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap material yang selama ini dianggap sebagai sampah.
“Prinsipnya sederhana: yang berasal dari alam, sebisa mungkin kita kembalikan lagi kepada alam dalam bentuk yang bermanfaat. Daun dan ranting kita olah menjadi kompos, kemudian kembali menjadi bagian dari tanah,” tambahnya.
Ketua RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, Andi Hariyadi, mengatakan bahwa pengelolaan ranting dan daun menjadi perhatian penting karena aktivitas pemangkasan pohon merupakan hal yang rutin terjadi di lingkungan permukiman.
“Setiap kali ada pemangkasan pohon, biasanya ranting dan daun langsung menjadi persoalan. Dengan adanya pengelolaan seperti ini, warga memiliki pilihan lain. Tidak harus dibakar dan tidak harus dibuang, tetapi bisa dikumpulkan untuk dimanfaatkan,” ujar Andi.
Menurutnya, keberadaan KES menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan dapat ditangani mulai dari lingkungan terkecil.
“Kami berharap kebiasaan ini bisa ditiru oleh warga. Kalau setiap rumah mulai memilah dan mengelola sampah organiknya, termasuk ranting dan daun, tentu lingkungan menjadi lebih bersih dan tidak terganggu asap pembakaran,” katanya.
Andi juga melihat bahwa pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan bersama.
“Kuncinya adalah kesadaran dan kebersamaan. Pengelolaan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua orang. Kalau warga bergerak bersama, hal sederhana seperti mengelola ranting dan daun pun bisa memberikan manfaat yang besar bagi lingkungan,” tambahnya.
Keberadaan 14 sumur resapan di KES menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.
Selain menjadi tempat proses pengomposan material organik, sumur resapan juga membantu mempercepat peresapan air hujan, sehingga air tidak seluruhnya mengalir di permukaan.
Dengan pendekatan tersebut, ranting dan daun tidak lagi sekadar dipandang sebagai sisa pemangkasan, tetapi menjadi bagian dari siklus lingkungan.
Ranting dicacah. Daun diolah. Cacahan dikomposkan di dalam tanah. Material organik kembali menjadi bagian dari tanah. Air hujan diarahkan untuk kembali meresap ke bumi.
Sebuah proses sederhana yang menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar kita.
Apa yang dilakukan Kampung Edukasi Sampah juga menjadi pengingat bahwa membakar sampah bukan satu-satunya cara untuk mengurangi tumpukan ranting dan daun.
Ketika material organik dapat dicacah dan dikomposkan, masyarakat tidak hanya mengurangi volume sampah yang harus dibuang, tetapi juga menghindari polusi udara yang timbul dari pembakaran.
Dari sinilah semangat ekonomi sirkular dan keberlanjutan dapat dimulai: material yang masih memiliki manfaat tidak langsung dianggap sebagai sampah, tetapi dikembalikan ke dalam siklus kehidupan.
Tidak dibakar. Tidak sekadar dibuang. Tetapi dicacah, dikomposkan, dan dikembalikan kepada tanah.
Karena menjaga lingkungan bukan hanya tentang membersihkan apa yang terlihat kotor, tetapi juga tentang memikirkan bagaimana setiap sisa aktivitas kita dikelola agar tidak menjadi beban bagi lingkungan dan generasi mendatang.


