Ekoteologi, Ekonomi Sirkular dan Akuntansi Sosial
Kampung Edukasi Sampah Jadi Living Laboratory Circular Economy
SURABAYA – Pengelolaan sampah di tingkat masyarakat selama ini sering kali dipandang sebatas persoalan kebersihan. Namun, praktik di Kampung Edukasi Sampah (KES), RT 23/RW 07 Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, menunjukkan bahwa sampah dapat menjadi pintu masuk untuk membangun perubahan perilaku, menciptakan nilai ekonomi, memperkuat kohesi sosial sekaligus menjaga lingkungan.
Praktik tersebut menjadi bagian dari kajian Tim Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yang terdiri dari para profesor dan doktor melalui penelitian bertema :“Ekoteologi Berbasis Circular Economy Komunitas dalam Kerangka Akuntansi Keuangan dan Sosial.”
Hasil penelitian tersebut kemudian dipaparkan dalam Seminar Hasil Penelitian yang menghadirkan dua narasumber dari Kampung Edukasi Sampah, yakni pegiat lingkungan Edi Priyanto dan Direktur Bank Sampah Puji Rahayu, serta pemaparan hasil penelitian oleh Nurul Lathifah, dosen FEBI UINSA.
Penelitian ini menarik karena menempatkan KES bukan hanya sebagai lokasi pengelolaan sampah, tetapi sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan praktik masyarakat dengan perspektif akademik.
Dalam materi penelitian disebutkan, KES dibangun dari gagasan “mengubah perilaku sebelum mengubah sampah.” Karena itu, KES tidak diposisikan semata-mata sebagai tempat pengolahan sampah, melainkan sebagai ruang belajar, laboratorium circular economy, gerakan komunitas, ruang inovasi, dan living laboratory bagi perguruan tinggi.
Pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, dalam pemaparannya menekankan bahwa persoalan sampah pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan teknologi pengolahan, tetapi juga menyangkut perilaku manusia.
“Kami belajar bahwa sebelum mengubah sampah, yang harus diubah terlebih dahulu adalah perilaku manusianya. Kalau masyarakat sudah memiliki kesadaran untuk memilah, mengurangi dan memanfaatkan kembali sampah, maka teknologi dan berbagai inovasi akan menjadi lebih mudah diterapkan.”
Menurut Edi, pendekatan circular economy menjadi menarik ketika diterjemahkan dalam aktivitas sederhana yang dapat dilakukan masyarakat.
Sampah anorganik misalnya, dikumpulkan melalui Bank Sampah dan diarahkan menjadi material yang memiliki nilai ekonomi. Sampah organik diolah menggunakan komposter Takakura maupun tong aerob menjadi kompos. Sampah organik juga dapat dimanfaatkan melalui budidaya BSF atau maggot, sementara daun dan ranting diolah menggunakan mesin pencacah dan dimanfaatkan dalam proses pengomposan maupun sumur resapan.
Dengan demikian, sampah tidak berhenti pada proses “buang dan angkut”, tetapi masuk kembali ke dalam sebuah siklus sumber daya.
Model tersebut juga diperkuat dengan pemanfaatan air melalui IPAL komunal untuk penyiraman tanaman, pemanfaatan energi matahari melalui panel surya, serta pengembangan hidroponik dan urban farming untuk mendukung ketahanan pangan.
Sementara itu, Direktur Bank Sampah Kampung Edukasi Sampah, Puji Rahayu, menjelaskan bahwa keberadaan Bank Sampah tidak hanya berorientasi pada aktivitas mengumpulkan dan menjual sampah.
“Bank Sampah bukan hanya tempat menabung sampah. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan warga agar mau memilah dan melihat sampah sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai. Dari situ muncul kepedulian, kedisiplinan, sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.”
Menurut Puji, ketika masyarakat mulai memahami bahwa sampah memiliki nilai, proses pemilahan menjadi lebih mudah diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bank Sampah kemudian menjadi salah satu simpul dalam ekosistem circular economy di KES, karena sampah anorganik yang dikumpulkan dapat masuk ke proses pemanfaatan kembali, kerajinan maupun aktivitas komersial.
Dalam pemaparan hasil penelitian, Nurul Lathifah, dosen FEBI UINSA, menjelaskan bahwa salah satu hal penting yang dikaji adalah bagaimana aktivitas pengelolaan lingkungan berbasis komunitas dapat dilihat melalui perspektif akuntansi keuangan dan sosial. Menurutnya, nilai yang dihasilkan KES tidak cukup jika hanya dihitung berdasarkan pendapatan finansial.
Materi penelitian membagi penciptaan nilai tersebut ke dalam tiga dimensi utama, yakni financial value, social value, dan environmental value.
Pada aspek financial value, beberapa komponen yang dapat diperhatikan antara lain penjualan sampah, pendapatan pupuk organik, pendapatan kunjungan, biaya operasional, biaya pemeliharaan alat, biaya edukasi, investasi sarana-prasarana, kontribusi atau donasi, serta efisiensi biaya pengelolaan sampah.
Sementara social value tercermin dari keterlibatan warga dan kader, keterlibatan siswa, mahasiswa dan masyarakat dalam proses pembelajaran, kolaborasi dengan perguruan tinggi, kegiatan edukasi, peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, hingga terbentuknya aktivitas ekonomi masyarakat.
Adapun environmental value antara lain dapat dilihat dari pengurangan sampah yang dibuang ke TPA, volume sampah organik yang diolah, volume sampah anorganik yang didaur ulang, pengurangan residu, produksi kompos, pemanfaatan energi surya, serta konservasi air.
“Yang menarik dari KES adalah penciptaan nilainya tidak hanya dilihat dari sisi uang. Ada nilai sosial dan lingkungan yang juga perlu dikenali dan diukur. Inilah yang membuat praktik komunitas seperti KES menarik untuk dikaji dalam perspektif akuntansi keuangan dan sosial,” jelas Nurul Lathifah.
Lebih lanjut, hasil penelitian menggambarkan Value Creation Model yang dikembangkan KES. Proses penciptaan nilai dimulai dari berbagai input, seperti sampah, sumber daya manusia, dana, teknologi, pengetahuan dan partisipasi warga.Input tersebut kemudian diproses melalui kegiatan pemilahan, pengumpulan, pengolahan, penggunaan kembali, edukasi dan kolaborasi.
Dari proses tersebut lahir berbagai output, antara lain kompos, material daur ulang, maggot, tanaman, energi dan pengetahuan. Model ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah sebenarnya dapat menjadi sebuah ekosistem yang saling terhubung. Penelitian juga menekankan pentingnya membangun ekosistem, bukan hanya menyediakan sarana dan prasarana.
Di dalam ekosistem tersebut, warga menjadi pelaku utama, kader lingkungan menjadi penggerak, anak dan pemuda menjadi generasi penerus, sekolah dan masyarakat menjadi ruang edukasi, perguruan tinggi berperan melalui ilmu dan riset, pemerintah memberikan dukungan kebijakan, sedangkan dunia usaha dan komunitas menjadi bagian dari kolaborasi.
Pendekatan tersebut membuat pengelolaan lingkungan tidak berjalan secara parsial. Masyarakat tidak hanya menerima program, tetapi menjadi bagian dari proses perubahan. Perguruan tinggi tidak hanya melakukan penelitian, tetapi hadir di tengah masyarakat. Sementara komunitas tidak hanya menjadi objek kegiatan, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran.
Praktik circular economy di KES juga diwujudkan melalui berbagai inovasi. Di antaranya adalah pengelolaan sampah organik menjadi kompos, budidaya BSF/maggot, pemanfaatan daun dan ranting melalui mesin pencacah, pemanfaatan air selokan melalui IPAL komunal, penggunaan panel surya untuk energi, pengembangan hidroponik dan urban farming, hingga berbagai sarana edukasi lingkungan.
KES juga mengembangkan inovasi dalam pengelolaan Bank Sampah, pengolahan air limbah untuk penyiraman tanaman, sumur resapan sebagai bagian dari proses pengomposan, serta pemanfaatan energi surya untuk hidroponik dan penerangan.
Berbagai aktivitas tersebut sekaligus mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama terkait pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, air bersih dan sanitasi, kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi iklim, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.
Bagi Kampung Edukasi Sampah, penelitian ini menjadi contoh bagaimana praktik masyarakat dapat menjadi sumber pengetahuan akademik. Selama ini berbagai perguruan tinggi telah menjadikan KES sebagai ruang edukasi, penelitian dan kegiatan mahasiswa. Materi penelitian bahkan menempatkan KES sebagai living laboratory perguruan tinggi.
Kampus belajar dari praktik masyarakat, sementara masyarakat memperoleh penguatan melalui ilmu, penelitian dan inovasi perguruan tinggi. Dalam konteks tersebut, seminar hasil penelitian bukan hanya menjadi forum untuk mempresentasikan hasil kajian, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan teori dengan praktik, ilmu dengan pengalaman, serta kampus dengan masyarakat.





