banner 728x90

SIDOARJO — Konsep circular economy (ekonomi sirkular) kini tidak lagi sekadar wacana global. Praktik nyata mulai tumbuh dan menunjukkan dampak langsung bagi lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat. Salah satunya ditunjukkan oleh Kampung Edukasi Sampah RT 23 RW 7 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo.

Penguatan Bank Sampah sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sirkular menjadi sorotan dalam kegiatan Pemantapan Implementasi Sidoarjo ASRI Menuju Adipura 2026 yang digelar di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Kamis (2/4/2026).

Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati, menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus bertransformasi dari sekadar membuang menjadi mengelola dan memanfaatkan.

“Kesadaran pengelolaan sampah harus dioptimalkan. Tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi berkelanjutan melalui penguatan Bank Sampah,” ujarnya.
Menurutnya, implementasi Sidoarjo ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) akan semakin kuat jika didukung oleh partisipasi aktif masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Penghargaan diterima langsung oleh Puji Rahayu, Direktur Bank Sampah Kampung Edukasi Sampah, menjadi bukti bahwa konsep ekonomi sirkular telah berjalan nyata di tengah masyarakat.

Di Kampung Edukasi Sampah, sampah tidak lagi berakhir sebagai residu, tetapi diputar kembali menjadi sumber nilai ekonomi dan manfaat lingkungan. Warga secara aktif memilah sampah dari rumah, kemudian mengelolanya melalui sistem Bank Sampah yang terorganisir.

“Ini adalah hasil kebersamaan warga. Sampah yang dulu dibuang, kini dikelola dan memiliki nilai ekonomi,” ungkap Puji Rahayu.

Program yang dijalankan mencerminkan prinsip utama ekonomi sirkular yaitu reduce : mengurangi sampah dari sumbernya melalui kesadaran rumah tangga, reuse : memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai dan recycle : mendaur ulang sampah menjadi produk bernilai.

Selain itu, sistem tabungan sampah berbasis digital, pencatatan administrasi yang tertib, serta mekanisme penukaran sampah menjadi uang menjadikan Bank Sampah sebagai bagian dari ekonomi komunitas yang produktif.

Sementara itu pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto, menilai bahwa kekuatan utama dari model ini terletak pada perubahan pola pikir masyarakat.

“Ekonomi sirkular bukan hanya soal mengelola sampah, tetapi mengubah cara pandang bahwa apa yang dianggap limbah sebenarnya memiliki nilai jika dikelola dengan benar,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas mampu menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Melalui Bank Sampah, warga tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi tambahan. Di sisi lain, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir pun berkurang secara signifikan.

Ketua RT 23 RW 7 Sekardangan, Andi Hariyadi, menegaskan bahwa keberhasilan Kampung Edukasi Sampah tidak terlepas dari semangat gotong royong warga.

“Kami ingin sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi menjadi sumber kebaikan. Lingkungan bersih, masyarakat sehat, dan ekonomi warga ikut bergerak,” katanya.
Pendekatan ini menjadikan ekonomi sirkular tidak hanya sebagai konsep teknis, tetapi sebagai gerakan sosial yang memperkuat kebersamaan dan kemandirian warga.

Penguatan Bank Sampah sebagai bagian dari ekonomi sirkular menjadi salah satu strategi penting dalam mewujudkan Sidoarjo ASRI menuju Adipura 2026.

Lebih dari sekadar program lingkungan, langkah ini menunjukkan bahwa transformasi menuju keberlanjutan dapat dimulai dari kampung, dari kebiasaan sehari-hari, dan dari kesadaran kolektif masyarakat.

Kampung Edukasi Sampah Sekardangan kini menjadi bukti bahwa ekonomi sirkular bukan hanya milik industri besar, tetapi bisa tumbuh dari lingkungan terkecil dan memberi dampak yang besar.

Dari Kampung Edukasi Sampah, ekonomi sirkular hidup. Dari kebiasaan, perubahan dimulai.

banner 300x250

Berita Terkait