banner 728x90

Sidoarjo — Upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini kembali terlihat dalam kegiatan kunjungan edukatif yang dilakukan siswa SMP VITA Surabaya ke Kampung Edukasi Sampah pada Selasa (7/4/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB ini menjadi bagian dari program educational trip (edutrip) dengan tema “Exploring Future Technology in Society: Introduction to Developed Eco-Green Community”.

Kunjungan ini diikuti oleh 56 siswa kelas 7 beserta 4 guru pendamping, sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang menghubungkan teori di kelas dengan praktik nyata di lapangan. Dalam surat resmi permohonan kegiatan, sekolah menegaskan bahwa edutrip ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa terhadap dampak limbah rumah tangga terhadap krisis lingkungan global .

Sejak awal kegiatan, para siswa diajak memahami bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu lokal, melainkan bagian dari tantangan global yang membutuhkan perubahan perilaku. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan observasi langsung terhadap sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang diterapkan di Kampung Edukasi Sampah.

Koordinator Edutrip James Pattie menyampaikan bahwa keputusan memilih lokasi ini berangkat dari pencarian referensi program keberlanjutan yang aplikatif di masyarakat.

“Saya awalnya browsing dan mendapati kampung yang memiliki program sustainability yang tinggi. Bersyukur anak-anak bisa belajar langsung tentang pemilahan dan pengelolaan sampah. Mereka juga bisa belajar menggunakan panel surya, instalasi pengelolaan air limbah, serta berbagai metode pengolahan sampah. Saya sangat merekomendasikan tempat ini sebagai sarana belajar gaya hidup berkelanjutan,” ujarnya.

Salah satu fokus pembelajaran adalah transformasi kawasan tersebut menjadi kampung literasi lingkungan yang mengedepankan prinsip go green. Para siswa mempelajari bagaimana perubahan pola pikir warga menjadi kunci utama dalam mengubah kampung menjadi lebih bersih, sehat, dan produktif. Mereka juga diajak melihat berbagai inovasi sederhana namun berdampak, mulai dari pemilahan sampah, pengolahan organik, hingga pemanfaatan kembali limbah menjadi produk bernilai.

Dari sisi pengelola, kader lingkungan Puji Rahayu menegaskan bahwa edukasi seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kolektif sejak usia dini.

“Kami tidak hanya mengenalkan bagaimana memilah dan mengolah sampah, tetapi juga membangun kebiasaan dan pola pikir bahwa setiap orang punya peran dalam menjaga lingkungan. Harapannya, anak-anak yang datang ke sini bisa membawa pulang nilai-nilai tersebut dan menerapkannya di rumah maupun sekolah,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, pengalaman belajar semakin lengkap saat siswa diperkenalkan pada penerapan teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan panel surya sebagai sumber energi alternatif. Praktik ini memberikan gambaran nyata bahwa konsep keberlanjutan tidak hanya berhenti pada teori, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui teknologi yang tepat guna.

Kunjungan ini menjadi bukti bahwa pendidikan lingkungan yang efektif tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi perlu dihidupkan melalui pengalaman langsung. Dari Kampung Edukasi Sampah, para siswa tidak hanya belajar tentang sampah, tetapi juga tentang masa depan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama.

banner 300x250

Berita Terkait