banner 728x90

Sidoarjo — Edukasi kelola lingkungan tidak lagi cukup dilakukan di dalam kelas. Pendekatan berbasis pengalaman langsung (experiential learning) kini menjadi metode yang semakin relevan untuk membentuk karakter peduli lingkungan sejak usia dini. Hal inilah yang dilakukan SD Muhammadiyah 1 Sedati melalui kunjungan edukatif ke Kampung Edukasi Sampah (KES), RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, pada Rabu (22/4/2026).

Sebanyak 72 siswa kelas II didampingi 6 guru mengikuti kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga 10.30 WIB. Kunjungan ini merupakan bagian dari pengembangan kurikulum sekolah untuk memperkaya wawasan siswa tentang lingkungan hidup secara kontekstual dan aplikatif.

Kegiatan ini bertujuan untuk “lebih mengenalkan dan menambah wawasan siswa tentang edukasi mengenal lingkungan sekitar” . Tujuan tersebut terlihat nyata sepanjang kegiatan, di mana siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pengelolaan sampah.

Sejak tiba di lokasi, para siswa disambut oleh tim edukasi Kampung Edukasi Sampah dan diajak berkeliling melihat berbagai fasilitas dan program unggulan yang telah dikembangkan warga. Mereka dikenalkan pada konsep dasar pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, mulai dari pentingnya memilah sampah dari sumber, penggunaan tempat sampah terpilah, hingga alur pengolahan sampah organik dan anorganik.

Salah satu materi utama yang diberikan adalah pemahaman tentang perbedaan sampah organik dan anorganik serta dampaknya terhadap lingkungan. Siswa juga diajak melihat secara langsung proses pengolahan sampah organik menggunakan metode komposter, serta pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Menariknya, sepanjang kegiatan terlihat antusiasme tinggi dari para siswa. Anak-anak yang sebelumnya belum memahami pentingnya pemilahan sampah, kini mulai mengenal dan memahami jenis-jenis sampah. Dari yang semula tidak tahu, mereka menjadi tahu; dari yang belum terbiasa, kini mulai mampu memilah bahkan memahami cara sederhana mengolah sampah.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga berhasil menumbuhkan motivasi siswa untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Ilmu yang didapat tidak hanya berhenti saat kegiatan berlangsung, tetapi diharapkan dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Kebiasaan kecil seperti memilah sampah dan menjaga kebersihan mulai tertanam sebagai bagian dari perilaku positif.

Tidak hanya itu, siswa juga diperkenalkan pada berbagai inovasi lingkungan yang ada di Kampung Edukasi Sampah, seperti pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna, konsep pengolahan air limbah sederhana, hingga pemanfaatan energi terbarukan dalam skala komunitas. Hal ini memberikan gambaran utuh bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Untuk memperkuat pemahaman, kegiatan dikemas secara interaktif melalui praktik langsung. Siswa diajak memilah sampah, mengenali jenis-jenis limbah, serta berdiskusi ringan tentang kebiasaan sehari-hari yang berdampak pada lingkungan. Metode ini terbukti efektif dalam membangun kesadaran sekaligus menanamkan kebiasaan positif sejak dini.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Sedati, Dhani Harsyahyadi, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa. Melalui pengalaman langsung di lapangan, siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, tim Kampung Edukasi Sampah menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi bagian dari misi besar untuk memperluas literasi lingkungan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Kampung ini sendiri telah berkembang menjadi pusat edukasi berbasis masyarakat yang tidak hanya mengajarkan pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup berkelanjutan.

 

Kegiatan ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam menjawab tantangan lingkungan. Dengan pendekatan yang tepat, edukasi lingkungan tidak hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi mampu mendorong aksi nyata yang berdampak jangka panjang.

Melalui kunjungan ini, para siswa pulang tidak hanya membawa pengalaman baru, tetapi juga kesadaran baru: bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana—memilah dan mengelola sampah dari rumah, serta menerapkannya secara konsisten di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
 
 
 

banner 300x250

Berita Terkait