Warga Banjarpoh Belajar Pengelolaan Sampah di Kampung Edukasi Sampah
Sidoarjo — Kesadaran menjaga lingkungan dinilai tidak cukup hanya melalui himbauan atau aturan semata, namun membutuhkan proses manajemen perubahan masyarakat yang dilakukan secara bertahap, konsisten, dan melibatkan partisipasi aktif warga.
Dalam kesempatan itu, Ketua RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Andi Hariyadi, menerima kunjungan rombongan kader lingkungan RT 09 RW 05 Dusun Banjarpoh, Desa Banjarbendo, Kecamatan Sidoarjo, Minggu (24/5/2026). Kunjungan edukasi tersebut diikuti sebanyak 13 peserta.
Andi menyampaikan bahwa Kampung Edukasi Sampah terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar bersama tentang pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Menurutnya, edukasi lingkungan tidak hanya penting untuk menjaga kebersihan kampung, tetapi juga membangun karakter peduli, disiplin, dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.
“Kami percaya perubahan lingkungan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan RT. Ketika warga bergerak bersama, maka perubahan itu akan terasa nyata dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu Ketua RW 05 Dusun Banjarpoh menyampaikan apresiasi atas sambutan dan edukasi yang diberikan di Kampung Edukasi Sampah Sekardangan. Menurutnya, banyak pembelajaran praktis yang dapat diterapkan di lingkungan warga, terutama dalam membangun partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
“Kami melihat bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan di sini bukan hanya karena sarana yang ada, tetapi karena keterlibatan dan kekompakan warganya. Ini menjadi inspirasi bagi kami untuk mulai membangun gerakan serupa di lingkungan kami,” ungkapnya.
Dalam paparan dan diskusi yang difasilitasi oleh Edi Priyanto, pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah (KES) Sekardangan, menjelaskan bahwa perubahan perilaku warga dalam pengelolaan sampah bukan sesuatu yang instan. Dibutuhkan pendekatan sosial, edukasi berulang, keteladanan, serta kolaborasi antarwarga agar budaya peduli lingkungan dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama.
“Manajemen perubahan warga dimulai dari membangun kesadaran bahwa sampah bukan hanya urusan petugas kebersihan, tetapi tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat mulai memahami dampak sampah terhadap kesehatan, lingkungan, hingga masa depan anak-anaknya, maka perlahan akan tumbuh kepedulian dan kemauan untuk berubah,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan besar justru sering lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten di tingkat RT dan RW. Mulai dari memilah sampah rumah tangga, mengurangi sampah plastik, mengolah sampah organik, hingga membangun budaya gotong royong menjaga kebersihan lingkungan.
“Yang paling penting bukan hanya membangun fasilitas, tetapi membangun mindset dan budaya warga. Karena lingkungan yang bersih lahir dari masyarakat yang memiliki rasa peduli dan rasa memiliki,” tambahnya.
Kegiatan edukasi kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung di lapangan. Peserta diajak belajar pemilahan sampah dari rumah tangga, pengolahan sampah organik rumah menggunakan komposter takakura, hingga sistem pengomposan komunal beberapa rumah menggunakan komposter aerob.
Selain itu, peserta juga dikenalkan pemanfaatan sumur resapan untuk pengelolaan dedaunan serta rampasan ranting dan pohon agar dapat terurai secara alami dan bermanfaat bagi lingkungan.
Tidak hanya pengelolaan sampah padat, rombongan juga mempelajari pengelolaan air limbah dan selokan menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana yang dimanfaatkan kembali sebagai air siraman tanaman. Edukasi turut dilengkapi dengan pengenalan manajemen bank sampah sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif dengan diskusi seputar tantangan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.







